Furry Setya "Tukang Ojek Pengkolan" Modal Nekat Datang ke Jakarta

Yohanes Adi Pamungkas | 7 Agustus 2016 | 01:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Sinetron Tukang Ojek Pengkolan (TOP) RCTI membawa berkah bagi Furry Setya (33). Dari Semarang, pemeran Purnomo alias Mas Pur ini merantau ke Jakarta demi menggapai impian menjadi artis, dengan pengorbanan tidak kecil.  

Audisi Pelawak TPI (API) musim keempat pada 2007 mengantar Furry ke Jakarta. “Hanya sampai 6 besar, grup saya lalu pulang ke Semarang,” buka Furry di lokasi syuting TOP.

Tiga bulan batinnya bergolak. Hati Furry, yang saat itu dalam proses merampungkan skripsi di Universitas PGRI Semarang, telanjur tertambat pada dunia hiburan.

Lulus kuliah, bermodal 300 ribu rupiah dan 5 potong baju, Furry bersama seorang temannya berniat menaklukkan Jakarta, naik kereta kelas ekonomi. Ia menumpang di rumah kawannya. 

“Benar-benar modal nekat,” cerita Furry, yang menumpang di sana 2 tahun—dari niat awal 3 hari. 

“Rumah itu bekas studio musik, jadi tidur cuma di karpet. Tidak ada selimut, tidak ada kamar juga,” tambahnya.

Furry mulai menjadi figuran di beberapa reality show. 

“Saya pernah menjadi preman, disuruh marah-marah dan mendapatkan 75 ribu rupiah,” cerita Furry.

Ia senang sekali menerima honor pertamanya.

“Karena (sebelum terima honor), kalau makan di warung pasti berutang dulu,” tutur Furry. 

Sebagai figuran jam kerja dan pendapatannya tak pasti, Furry memutar otak agar perutnya terisi. Misalnya makan nasi dengan telur ceplok dan kecap, telurnya ia potong dua.

“Supaya bisa menjadi lauk saat makan pagi dan makan siang. Untuk makan malam, minta kepada teman,” bilang Furry.

Sebagai jebolan API, ia mencari peluang di TPI—sekarang MNCTV. 

“Saya menunggu di kantin modal es teh manis. Kalau lihat orang yang saya kenal, saya minta pekerjaan,” ujar Furry, yang akhirnya bertemu dengan kenalannya dan mendapatkan pekerjaan. Ia menjadi pembawa acara reality show berjudul Nekat. “Persis seperti hidup saya waktu itu, nekat,” katanya tertawa. 

Datang tawaran membintangi iklan rokok. “Honornya belasan juta,” beri tahunya.

Ia kemudian terlibat dalam beberapa sinetron, seperti Bang Jali Bikin Happy, Ustadz Fotokopi, dan program komedi Sketsa Tawa. Pelan-pelan kariernya naik, sampai membintangi sinetron TOP. 

“Awalnya hanya dibuat 30 episode saja, tetapi sekarang sudah 400 episode. Saya tidak menyangka sukses begini,” ujar Furry.

Sudah terkenal, Furry tidak berubah. “Saya alergi kalau makan di restoran, saya lebih suka makan di warung makan biasa. Bisa makan di warung saja sudah peningkatan dalam hidup saya, ketimbang dulu,” tegas Furry.

 

(han/gur)

 

Penulis : Yohanes Adi Pamungkas
Editor: Yohanes Adi Pamungkas
Berita Terkait